Kamis, 11 Agustus 2016

Surabaya, 11 Agustus 2016
13.39 WIB

Dear, Dewabrata..

Beberapa hari yang lalu kamu mengucapkan bahwa akan ada peringatan besar tiga hari lagi, dan sekarang aku mengerti bahwa yang kamu maksud adalah pernikahan mantan kekasihmu. Selama ini kamu selalu meyakinkan dunia bahwa kamu melepasnya dengan ikhlas, bahwa kamu mencoba untuk mendapatkan orang lain untuk menggantikan perannya di hidupmu! Tapi sungguh aku melihat ketidakrelaan di matamu saat melepas kenangan kalian yang ternyata masih tersimpan di dompetmu selama hampir tiga tahun ini.

Sekarang, apa yang kamu harapkan? Sehebat apa kamu setia, selama apa kamu menunggu, sekeras apa kamu bersabar, dia telah menjadi kekasih orang seutuhnya. Kamu tidak gila dengan mengharapkan perceraian keduanya, bukan?

Berulang kali ku katakan, melangkahlah, percayalah, ku tak mungkin mencelakai dalam langkahmu. Ku tak mungkin padamkan sinar dalam penglihatanmu, dan kau tak kunjung percaya. Jeritanku bagai suara sumbang yang tak berguna.

Aku tidak membela diri karena aku mencintaimu, aku juga tak sedang berusaha menghasut agar kau mencintaiku. Aku menginginkan kesakitanmu agar kau bebas dari rasa yang menyakitkan itu. Aku tak menginginkan tawamu bila bahagiamu bukan denganku.

Walau begitu, bukan berarti aku menyerah. Aku masih berjuang untuk mendapatkanmu. Diamku adalah doa untuk memintamu kepada Tuhan.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar