Rabu, 17 Agustus 2016

Surabaya, 17 Agustus 2016
19.27 WIB

Dear, you..

Aku adalah seorang hamba, seorang anak, dan seorang manusia yang memiliki mimpi, sama seperti kalian. Setinggi itu kah cita-citaku? Semustahil itu kah keinginanku? Hingga bibirmu begitu tajam menghancurkan segala keyakinan yang telah ku kokohkan dengan keringat dan air mataku selama ini? 

Kalian keluargaku, kalian sahabatku, kalian kerabatku yang sangat ku yakini selama ini. Ku jamu kalian dengan kesopanan dan kesantunan juga harga diri yang luar biasa, tapi tak satu pun dari kalian yang tak menghancurkan aku!

Bukan usaha yang membuatku terjatuh, bukan pula nasib yang membuatku tersandung, apalagi doa! Kenyataan dari kalianlah yang membuatku tersungkur terinjak hingga tak berbentuk. Sumpahmu yang tak beralasan itu. Apakah aku ini orang terbodoh? Kalian bilang aku tak pantas berada di sana. 

"Yakin ta kon katene daftar sekolah nang kono? Isok matematika ta? Pinter ta kon? Nang kono iku nggone wong pinter, kedukuren kon lek milih," Aku masih sangat mengingat perkataanmu, kakakku. 

"Kon iku, ancene nasibmu bosok kok," Aku pun masih mengingat perkataanmu, Pa. 

"Awakmu ngomong koncomu seng biasa biasa ae malah akeh seng keterimo, kon enggak. Soale de'e onok nilai plus, lah kon opo?" Apa itu pantas keluar dari mulut seorang ibu? 

"Kenapa sih kamu nggak milih sekolah yang biasa biasa aja, jurusan yang biasa biasa aja, kamu itu pilihannya ketinggian, salah kamu," Terima kasih, tante, sudah mengingatkan bahwa saya salah memilih! 

"Oh mau sekolah di sana, tapi kan di sana itu jadi favoritnya orang orang," Tetangga yang sangat baik, terima kasih juga!

Terima kasih. Aku tidak malu untuk mengakui aku memang terjatuh sekarang, kalian menang, tapi kemenanganmu seperti jarum panas di telapak kakiku, karena ini adalah kekalahanku yang terakhir, aku berjanji tahun depan kalian melihat namaku menjadi salah satu dari mereka yang kalian sebut hebat. Ku pastikan ini air mata terakhirku untuk kalian.

Tapi tenanglah, aku bukan anak durhaka yang mengabaikan orang terdekatnya setelah keberhasilan ku dapatkan. Aku sakit hati atas perkataan kalian, aku kecewa, dan itu tidak akan pernah hilang sampai aku mati, tapi itu tidak akan mengurangi rasa hormat dan sayangku. Aku sadar kodratku sebagai seorang hamba, seorang anak, dan seorang wanita, juga sesama. 

Kalian masih bagian dari hatiku, hidupku..

Kamis, 11 Agustus 2016

Surabaya, 11 Agustus 2016
13.39 WIB

Dear, Dewabrata..

Beberapa hari yang lalu kamu mengucapkan bahwa akan ada peringatan besar tiga hari lagi, dan sekarang aku mengerti bahwa yang kamu maksud adalah pernikahan mantan kekasihmu. Selama ini kamu selalu meyakinkan dunia bahwa kamu melepasnya dengan ikhlas, bahwa kamu mencoba untuk mendapatkan orang lain untuk menggantikan perannya di hidupmu! Tapi sungguh aku melihat ketidakrelaan di matamu saat melepas kenangan kalian yang ternyata masih tersimpan di dompetmu selama hampir tiga tahun ini.

Sekarang, apa yang kamu harapkan? Sehebat apa kamu setia, selama apa kamu menunggu, sekeras apa kamu bersabar, dia telah menjadi kekasih orang seutuhnya. Kamu tidak gila dengan mengharapkan perceraian keduanya, bukan?

Berulang kali ku katakan, melangkahlah, percayalah, ku tak mungkin mencelakai dalam langkahmu. Ku tak mungkin padamkan sinar dalam penglihatanmu, dan kau tak kunjung percaya. Jeritanku bagai suara sumbang yang tak berguna.

Aku tidak membela diri karena aku mencintaimu, aku juga tak sedang berusaha menghasut agar kau mencintaiku. Aku menginginkan kesakitanmu agar kau bebas dari rasa yang menyakitkan itu. Aku tak menginginkan tawamu bila bahagiamu bukan denganku.

Walau begitu, bukan berarti aku menyerah. Aku masih berjuang untuk mendapatkanmu. Diamku adalah doa untuk memintamu kepada Tuhan..